Minggu, April 12, 2009

Jigoku Shoujo

4 komentar

Hell Girl (地獄少女 Jigoku Shōjo), dengan judul panjang Jigoku Shōjo: Gadis dari Neraka, adalah sebuah kartun Jepang yang diproduksi oleh Aniplex dan Studio Deen. Kartun ini disiarkan ke seluruh penjuru Jepang, termasuk Animax, Tokyo MX dan MBS. Mengikuti kesuksesan season pertama Jigoku Shōjo, maka pada pertengahan 2006, Studio Deen membuat season kedua dari Jigoku Shōjo dengan judul Jigoku Shōjo Futakamori. Jigoku Shōjo Futakamori ini disiarkan oleh Nippon Television pada bulan November 2006. Cerita

Dalam setiap serial pada Jigoku Shōjo, diceritakan tentang kisah seorang yang dimana kesuksesan yang diperolehnya dihancurkan oleh tokoh antagonis dalam serial tersebut. Sebuah website dengan nama Jigoku Tsūshin (Pertemanan Neraka) yang hanya bisa diakses pada malam hari oleh seseorang yang memiliki dendam terhadap orang yang dia anggap telah membuat dirinya tersiksa. Apabila seseorang mengetikkan nama orang yang ia benci, maka Jigoku Shōjo akan memberikan orang ini sebuah boneka lengkap dengan seutas tali merah. Jika tali merah tersebut ditarik, maka orang yang ia benci akan mati dan diantar ke Neraka oleh Jigoku Shōjo. Tentunya hal ini dengan syarat, bahwa orang yang meminta akan dimasukkan juga ke neraka.

Dalam setiap seri, cerita dimulai dengan seorang protagonis yang memiliki perasaan dendam yang memuncak, lalu mereka membuka sebuah website. Di halaman utama website tersebut tertulis, "あなたの怨み、晴らします。(Kami akan membalaskan dendam anda disini)" dan dibawahnya ada text box yang tertulis "送信 (Kirim)". Beberapa saat setelah mereka mengirim nama orang yang mereka benci, seorang gadis bernama Enma Ai akan datang ke orang yang meminta. Orang yang meminta ini akan diberikan sebuah boneka oleh Enma Ai (baca: Emma Ai), lengkap dengan sebuah pita merah yang dikalungkan di leher boneka tersebut. Selanjutnya Enma Ai akan memberitahukan orang ini agar menarik pita merah tersebut, supaya musuh mereka dimasukkan ke neraka. Tapi, ini bukannya tanpa syarat. Setelah orang yang meminta menarik pita, maka akan timbullah tanda bulan sabit di dada mereka, sebagai kontrak dengan Jigoku Shōjo untuk masuk ke neraka, sebagai konsekuensi terbayarnya dendam mereka.

Karakter

Karakter utama

Enma Ai (閻魔 あい )
Sulih suara oleh: Mamiko Noto (Jepang), Brina Palencia (Inggris)
Enma Ai merupakan tokoh protagonis utama pada cerita Jigoku Shōjo. Dengan rambut panjang dan mata merah, dulunya dia pernah mengalami sebuah tragedi yang amat pahit di kehidupannya. Dia tinggal di sebuah dunia yang terus-menerus berada dalam keadaan senja bersama neneknya. Dia bertugas untuk membalaskan dendam kliennya kepada musuh klien tersebut. Enma Ai selalu muncul dengan memakai seragam seifuku atau seragam pelaut berwarna hitam, tapi Enma Ai akan memakai kimono bercorak bunga-bungaan pada saat ia menjalankan tugasnya sebagai Jigoku Shōjo. Dia menjalankan tugas ini selama lebih dari 400 tahun.
Ichimoku Ren (一目連 )
Sulih suara oleh: Masaya Matsukaze (Jepang), Todd Haberkorn (Inggris)
Ren adalah sahabat dari Ai, dan muncul dengan bentuk seorang lelaki yang tampan. Dia memiliki sebuah biji mata yang besar. Biji mata ini sering dipakai oleh Ren untuk mengamati ruang dan bisa menembus dinding. Mata besar ini kadangkala dipakai Ren sebagai senjata yang bisa memancarkan sinar cahaya yang amat kuat.

Ren berpakaian kasual layaknya remaja cowok pada umumnya. Ketampanannya cukup menarik perhatian para gadis... Ia kadang-kadang menyamar menggunakan nama Ichimoto.

Hone Onna (骨女 )
Sulih suara oleh: Takako Honda (Jepang), Jennifer Seman (Inggris)
Hone Onna adalah seorang wanita cantik yang memakai kimono dan memakai tanda obi yang menandakan bahwa ia adalah seorang pelacur.Hone Onna juga salah satu pembantu dari Enma Ai. Hone Onna bersama Enma Ai bersama-sama menemui klien dan mengantar musuh klien ke neraka. Di dunia nyata, Hone Onna menyamar sebagai seorang wanita biasa untuk menemui kliennya. Hone Onna juga memiliki sebuah senjata, yaitu pisau lempar. Kemampuan Hone Onna yang lain adalah bisa menyelip ke jalan-jalan yang sempit.
Wanyūdō (輪入道 )
Sulih suara oleh: Takayuki Sugo (Jepang), Robert Bruce Elliot (Inggris)
Wanyūdō juga merupakan salah satu pembantu Enma Ai dalam tugasnya. Wanyūdō berperan sebagai penjemput roh-roh klien Enma Ai untuk diantar menuju ke neraka. Wanyūdō ditampilkan sebagai orang tua, dengan pakaian tradisional Jepang. Walaupun kelihatan tua, Wanyūdō memiliki kemampuan beladiri dan bisa melempar bola api. Enma Ai juga memberikan kemampuan kepada Wanyūdō, yaitu kemampuan untuk berubah wujud.
Nenek Ai (あいの祖母 )
Sulih suara oleh: Eriko Matsushima (Jepang), Juli Erickson (Inggris)
Wajah Nenek Ai tidak diketahui secara jelas, karena hanya diperlihatkan seperti bayang-bayang saja. Nenek Ai sering menasihati Enma Ai dalam melaksanakan tugasnya. Kadangkala, Nenek Ai juga memberikan nasihat kepada pembantu Ai, seperti Wanyūdō dan Hone Onna.
Laba-laba (人面蜘蛛 )
Sulih suara oleh: Hidekastu Shibata
Karakter ini merupakan sebuah laba-laba yang berwarna aneh, biasa muncul pada saat Ai dan pembantunya sedang berkumpul. Laba-laba ini berbicara seperti suara seorang lelaki. Laba-laba ini tidak pernah suka dan percaya dengan pembantu Ai.
Kikuri (きくり )
Sulih suara oleh: Kanako Sakai
Kikuri merupakan seorang gadis kecil yang baru muncul pada saat Jigoku Shōjo Futakomori (season kedua). Kemunculannya sering kali diiringi dengan lagu nina bobo. Kikuri memiliki mata yang biru dan kepribadiannya lebih kekanak-kanakan dibanding Ai. Kikuri pernah menyatakan bahwa ia menyukai Ai.

Karakter sampingan

Hajime Shibata (柴田一 )
Sulih suara oleh: Yuji Ueda (Jepang), John Burgmeier (Inggris)
Tokoh ini merupakan seorang mantan jurnalis. Dia mengumpulkan banyak uang berkat kerjanya dalam memata-matai aktivitas rahasia artis-artis. Pertama-tama, ia mencoba mengungkap situs web Jigoku Tsūshin (Korespondensi Neraka), tapi kemudian ia menyadari bahwa Korespondensi Neraka hanyalah sebuah rumor dan dia berpikir bahwa semua orang sebenarnya sudah berada di Neraka. Entah kenapa, putri dari Hajime Shibata yaitu Tsugumi yang memiliki hubungan rahasia dengan Enma Ai. Hubungan ini memungkinkan Tsugumi untuk melihat segala hal yang telah dilakukan oleh Enma Ai. Di edisi Jigoku Shōjo Futakamori , Hajime Shibata dikenal sebagai penulis biografi Enma Ai.

Tsugumi Shibata (柴田つぐみ )
Sulih suara oleh: Nana Mizuki (Jepang), Luci Christian (Inggris)
Tokoh ini merupakan anak dari Hajime Shibata. Dia lebih dikenal dengan sebutan Hajime-chan. Tsugumi melihat Ai secara tiba-tiba pada suatu hari dan memulai suatu hubungan rahasia dengan Ai. Mula-mula, ia menduga bahwa ia melihat Ai dari pandangan ayahnya. Tapi, lama-kelamaan Tsugumi menjadi segan untuk bertemu dengan Ai. Di edisi Futakamori, Tsugumi diperlihatkan sebagai seorang tokoh yang menjadi sumber informasi tentang Ai. Pada episode ke 24 di Futakamori, nampak Tsugumi juga memiliki hubungan dengan Kikuri.

Ayumi Shibata (柴田 あゆみ Shibata Ayumi)
Sulih suara oleh: Hitomi Nabatame (Jepang), Colleen Clinkenbeard (Inggris)

Takuma Kurebayashi (紅林 拓真 Kurebayashi Takuma)
Sulih suara oleh: Ayumi Fujimura
situs resmi : http://www.jigokushoujo.com/

Nodame Cantabile

0 komentar
Nodame Cantabile (のだめカンタービレ, Nodame Kantābire?)adalah sebuah komik karangan Tomoko Ninomiya yang pertama kali di terbitkan berseri di majalah kiss di jepang sejak tahun 2001 dan kemudian diterbitkan dalam bentuk komik berseri di indonesia oleh Elek Media Komputindo. Seri komik ini telah diadaptasikan dalam bentuk film kartun berseri dan drama berseri (dorama) di jepang. Jalan cerita Kisahnya bercerita tentang sebuah akademi musik "Momogaoka" yang terdiri dari bermacam-macam karakter siswa dalam belajar bermusik klasik. Tokoh

Megumi Noda atau Nodame (piano) Mahasiswi jorok yang berbakat memainkan piano dengan pendengarannya yang super, walaupun dengan satu kekurangannya yaitu tidak bisa membaca partitur . Kisah cintanya yang unik bersama Shinici Chiaki putra pianis kenamaan Masayuki Chiaki yang kemudian berlanjut sampai mereka belajar di perancis.

Shinici Chiaki (piano, biola, konduktor) Mahasiswa perfeksionis dan jenius yang mahir bermain biola, piano bahkan bercita-cita menjadi konduktor terkenal, semenjak menghadiri konser konduktor kenamaan sebastian viera sewaktu kecil. Kephobiaannya terhadap kapal laut dan pesawat terbang yang membuatnya bimbang untuk melanjutkan studinya keluar jepang.

Ryoutarou Mine (biola) Mahasiswa tingkat 4 yang menjadi teman nodame.

Masumi Okuyama (timpani) Mahasiswa yang juga salah satu penggemar fanatik chiaki

Death Note

0 komentar

Death Note adalah judul sebuah serial manga Jepang yang ditulis oleh Tsugumi Ohba dan ilustrasi oleh Takeshi Obata. Manga ini menceritakan tentang Light Yagami, seorang siswa jenius yang secara kebetulan menemukan Death Note milik shinigami (dewa kematian). Direalisasikan di majalah Shonen Jump dari Januari 2004 hingga Mei 2006 dengan total 108 bab. Versi tankoubonnya terbit sebanyak 12 jilid dan 1 jilid spesial yang berjudul How to Read 13 yang berisi tentang penjelasan dan profile tentang Death Note.

Dalam versi layar lebarnya, Death Note dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Death Note, Death Note The Last Name, dan Death Note 3,5. L Change The World.

Cerita Death Note berawal ketika Light Yagami menemukan sebuah buku yang ternyata milik Shinigami (Dewa Kematian) bernama Ryuk (Ryuku). Di dalam Death Note milik Ryuk, terdapat cara menggunakan Death Note yang ditulis olehnya sendiri. Death Note ini kemudian digunakan untuk mewujudkan idealismenya yaitu untuk menciptakan dunia baru yang bersih dari kejahatan, dengan dirinya sebagai Dewa.

Kemudian Death Note ini dia gunakan untuk membunuh para kriminal. Mendapatkan data para kriminal dari televisi maupun mencuri data kepolisian pusat (ayahnya, Shoichiro Yagami adalah seorang polisi). Ternyata tindakannya ini mengundang berbagai reaksi, baik dari masyarakat, para petinggi Jepang, bahkan dari para petinggi internasional. Kebanyakan masyarakat setuju dengan tindakan pembersihan dunia itu, namun para petinggi tidak menyetujuinya karena tindakan tersebut bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

Tidak hanya itu hambatan yang ditemui Raito (yang dijuluki KIRA, sebutan untuk Killer dalam dialek Jepang) untuk mewujudkan dunia yang bersih, dia juga harus berhadapan dengan L yang selanjutnya dikenal dengan nama Ryuzaki (nama asli L adalah L Lawliet). L adalah seorang detektif profesional muda bertaraf internasional yang hanya bergerak di belakang layar. Setelah bertemu L Lawliet, jalan cerita "Death Note" menjadi semakin menarik (ditambah dengan munculnya Kira Kedua dan sebagainya, dalam versi anime dan manganya).

Death Note The Last Name menceritakan tentang Kira Kedua yaitu seorang artis yang baru naik daun bernama Misa Amane, diceritakan juga asal usul mengapa Misa memiliki buku Death Note yang kedua. Misa memiliki buku death Note yang kedua karena dewa kematian yang selalu menjaga Misa (bernama Jealous) mati untuk menyelamatkan Misa yang akan dibunuh oleh seorang penjahat. Jelaous memperpanjang umur Misa, namun dengan begitu maka Jealous hancur menjadi pasir. Jealous kemudian meminta sahabatnya yang juga dewa kematian bernama Rem, Rem kemudian menjaga Misa dan mengajarkan bagaimana cara menggunakan Death Note. Misa yang telah kehilangan seluruh keluarganya karena dibunuh oleh seorang perampok. Misa yang melihat wajah pembunuh itu kemudian melaporkan pembunuh itu, namun karena kesaksian Misa tidak cukup kuat, maka pencuri itu kemudian dibebaskan. Misa yang sedih berlarut-larut dalam kesedihannya kemudian melihat berita bahwa pencuri itu telah mati karena serangan jantung. Misa Amane kemudian sangat memuji KIRA.

Light Yagami kemudian dicurigai oleh L sebagai Kira. Saat sedang diinterogasi dalam Markas Besar L, ternyata Kira Kedua beraksi dengan 'mata'-nya. Kira Kedua membunuh semua yang menentang KIRA. Kira Kedua memberikan sebuah rekaman suara yang menginginkan agar semua orang menyetujui kira yang dikirimkan ke Sakura TV. Kemudian datanglah Ayah Light (Shoichiro Yagami) ke stasiun TV itu. Di Stasiun TV sakura, Shoichiro kemudian memaksa Produser Sakura TV untuk menghentikan acara itu, karena ditodong pistol, produser itupun kemudian terpaksa menghentikan acara tersebut.

Khawatir akan Kira I dan Kira Kedua bertemu, L memerintahkan untuk membuat rekaman suara yang isinya adalah untuk agar Kira Kedua menyerahkan diri sebelum bertemu dengan Kira I. Tanpa disangka-sangka, ternyata Kira Kedua, Misa Amane telah jatuh cinta kepada Light (Kira I). Misa kemudian mendatangi rumah Light dan menyerahkan Death Notenya. Misa meminta agar Light menjadi kekasihnya.

L menemui Light di kampusnya sambil menanyakan kedatangan Misa kerumahnya kemarin malam. Ryuzaki yang memakai topeng kemudian bertemu dengan Misa Amane. Misa kemudian membaca nama asli Ryuzaki. Misa kemudian dirubungi oleh para Fansnya di kampus Light dan menyatakan bahwa Light adalah kekasih Misa. Dikerumunan itu, Ryuzaki mengambil Handphone Misa. Ketika Misa dan Ryuzaki pergi, Light menelepon Misa yang kemudian diangkat oleh Ryuzaki. Dilain sisi, Misa sudah diamankan oleh polisi anak buah Ryuzaki.

Misa dipaksa untuk mengatakan apakah dia adalah kira dan siapakah kira I, namun karena cintanya kepada Light Yagami, dia tetap diam. Misa kemudian meminta Rem menghapus memori tentang death note dari pada dia harus mengatakan Light adalah Kira I. Rem kemudian mendatangi Light dan mengancam akan membunuh Light jika sesuatu terjadi kepada Misa. Light kemudian menyembunyikan Death Note yang dimilikinya dan menyuruh Rem untuk mencari pemilik Death Note baru, Rem yang ingin Misa selamat kemudian menyetujui Light dan pergi mencari orang untuk menjadi Kira III.

Rem kemudian menyerahkan Death Note-nya kepada seorang gadis di Sakura TV bernama Yamada. Yamada kemudian membunuhi para penjahat dan menyiarkan di TV untuk Mensuport Kira. Misa yang telah kehilangan ingatannya kemudian mulai berbicara tentang Light, namun hanya mengatakan tentang masa pacaran dan bertemunya di Sakura TV. Lightpun kemudian menghilangkan ingatannya, Light dan Misa kemudian dibebaskan. Light yang kehilangan ingatannya tentang Death Note kemudian membantu Ryuzaki untuk mencari Kira III. Dengan bantuan Light, kemudian Kira III ditemukan dan dijebak dengan ancaman bahwa video pengintai kamarnya akan diberitahukan kepada seluruh dunia. Takut akan ancaman tersebut, Yamada kemudian nekat untuk menuliskan nama orang yang akan menyiarkan videonya didalam Death Note. Yamada yang mengetahui bahwa dia tak bisa membunuh orang itu kemudian datang ke Sakura TV. Disana semua agen polisi, Ryuzaki dan Light memegang buku itu dan dapat melihat Rem. Light yang menyentuh Death Note itu kemudian mengingat masa lalunya bersama Death Note. Light yang sudah ingat kemudian menuliskan nama Yamada dibalik jam tangannya dimana dia menaruh secarik kertas dari death note. Kematian Yamada kemudian menjadi misteri.

Light yang sudah mengingat kembali masa lalunya bersama Death Note kemudian menyuruh Misa yang telah dibebaskan untuk mengambil Death Note-nya yang dia sembunyikan dahulu. Misa yang menemukan Death Note itu kemudian mengingat lagi masa lalunya dan dapat melihat Ryukk (Dewa Kematian Death Note). Misa kemudian mulai membunuhi orang-orang lagi. Ryuzaki kemudian mengundang Misa ke Markas Besar, saat itu, dia juga menyuruh Soichiro Yagami untuk menyerahkan Death Note yang ada di markas besar ke FBI. Light kemudian menyuruh Rem untuk mengisi nama pengawal yang mengantar Misa didalam Death Note, dengan begitu Rem akan mati. Rem kemudian hancur berubah menjadi pasir. Ryuzaki yang merencanakan jika dia mati, maka pengawal yang mengantar Misa akan meledak untuk menghancurkan Death Note mengalami kegagalan. Pengawal itu mati dan Ryuzakipun mati. Misa kemudian bertemu dengan Light di Lobi. Disana, Light menuliskan nama ayahnya untuk menyerahkan Death Note, ayahnya kemudian kembali ke markas, ternyata Death Note yang ada di tangan Misa adalah palsu. Light menyangka bahwa Misa mengkhianatinya.

Ryuzaki kemudian turun dari tangga sambil memperlihatkan death note-nya. Disana dia sendiri telah menuliskan namanya. Light yang terdesak kemudian berusaha untuk mengambil potongan kertas Death Note yang diselipkan di jam tangannya, saat hendak mengeluarkannya, kemudian jam itupun ditembak oleh salah seorang personil polisi, bernama Tota Matsuda. Saat Light mencoba untuk mengambilnya, Matsuda kemudian menembak kaki Light. Light yang tersudut kemudian meminta Ryuk untuk menuliskan nama semua orang yang ada ditempat itu untuk dibunuh.

Tanpa disangka ternyata Ryuk justru menuliskan nama Light Yagami, Light kemudian mati karena serangan jantung. Death Note kemudian dihancurkan. Ryuzaki yang menunggu kematiannya kemudian mati dengan tenang.


Dalam versi layar lebarnya, tokoh Raito Yagami diperankan oleh aktor muda Tatsuya Fujiwara, sedangkan tokoh L diperankan oleh Kenichi Matsuyama.

Novel Rui (Bag.3)

0 komentar
“Infra red!”, alex berteriak sambil mengerahkan tongkatnya ke arah kerumunan tengkorak yang menyerangnya. Sinar berwarna merah memancar lurus dan menghancurkan tengkorak yang berada pada radius jangkauan sinar itu yang tidak terlalu jauh.

Sementara miss dan leme bersembunyi di belakang meja bartender berusaha menyedarkan mei dan kaze yang belum siuman.

“Hah... hah... g... ada habis-habisnya...”, ucap alex yang mulai kehabisan nafas. Keringat mulai membasahi wajahnya menetes ke atas lantai.

“Phi! Berjuang!”, ucap miss sambil mengibarkan bendera bertuliskan ‘Berjuanglah malaikat alex’ sementara leme mengenakan kostum pemandu sorak dan meneriakkan “Go! Go! Alex pasti menang!”, sambil menari bak cheerleader.

“Bantuin!”, alex bebalik dan langsung berteriak.

“Kami g bisa bertarung! Cuma jadi penggangu ntar!”, ucap miss langsung bersembunyi.

“Mangkanya kami bantu dengan cara kasih semangat”, ucap leme sambil tersenyum lebar.

“Bikin grogi tahu!”, ucap alex dengan pandangan menerawang.

“Alex! Belakang!”, miss dan leme berteriak bersamaan memperingatkan alex.

Alex berbalik, namun terlambat... sebuah tengkorak tengah siap menghembuskan kapak milkinya ke arah alex. Alex hanya reflek dengan menutup matanya.

“Cold breath!”, teriak seseorang. Dan dalam sekejap puluhan tengkorak menghilang lenyap menjadi abu diterpa hembusan angin dingin, termasuk tengkorak yang ingin menyerang alex.

Alex membuka matanya perlahan... para tengkorak pun melihat ke arah serangan yang berhasil memusnahkan sebagian besar kawanannya itu. Seorang wanita berdiri di depan pintu kafe sambil menggengam pedang yang mulai mengluarkan asap. Lantai yang di lalui oleh serangan itupun tidak luput menjadi hancur karena serangan itu.

“Reita memang keren!”, ucap wanita itu sambil mengacungkan ibu jarinya.

“Wah... nanti kamu yang bayar biaya perbaikannya ya...”, ucap pemuda yang berdiri di samping wanita itu sambil tersenyum.

“Reita! Ega!”, alex, leme dan miss bersamaan menyebut nama kedua orang itu sambil terpana melihatnya.

“Yo! Kayaknya kalian baik-baik aja...”, ucap reita sambil megedipkan matanya.

“Eh... sisanya boleh buat gw g rei?”, tanya ega sambil mengambil sesuatu dari dalam jubahnya.

“Hehe... serah kau aja ga...”, ucap reita dengan senyum agak terpaksa.

“Uwah... ega sama reita keren banget”, ucap miss sambil menyatukan kedua tangannya sambil terpana dengan gaya ega yang bagaikan pahlawan.

“Jadi... love form...”, sesaat setelah ega mengucapkan hal itu tubuhnya bersinar dan mulai berubah menjadi...

“...”, semua yang ada hanya bisa terpaku membisu sambil melihat dengan pandangan menerawang. Reita yang sudah tahu hal itu hanya tersenyum agak terpaksa.

Naughty okama akan menghukum mu dengan kekuatan cinta...”, ucap ega sambil mengedipkan matanya dengan gaya bagaikan pahlawan cewek di komik-komik. Kekaguman yang tadi di rasakan oleh leme dan miss langsung hancur menjadi abu dan hilang entah kemana.

Ega saat itu mengenakan sebuah seragam sailor dengan rok mini dan lengan panjang. Rambutnya yang tadinya pendek menjadi panjang dan diikat kuncir kuda. Sebuah senapan laras panjang berad di genggaman tangan kirinya berwarna perak mengkilap. (Ega... ni inspirasi datengnya dari primary lo... JANGAN PROTES!?).

“Udah cukup...”, ucap alex yang mulai mengeluarkan hawa kelam.

“Ph... phi?”, leme menyadari hal itu dan berusaha menegur alex. Namun...

“Dengan kekuatan kebenaran... akan kuhancurkan pa---“

“Love attack”, ega langsung memotong ucapan alex sambil menembakan sesuatu dari senapannya. Tapi bukan peluru. Melainkan sebuah balon berbentuk hati yang melayang menuju para kawanan tengorak yang masih terpana melihat perubahan ega.

Sesaat setelah balon hati itu menyentuh satu tengkorak... sebuah ledakan besar terdengar. Namun anehnya tidak ada bangunan yang hancur. Hanya para tengorak menghilang tak tersisa.

“Uhuk-uhuk...”, asap hitam memenuhi ruangan dan membuat mereka berhamburan keluar. Tentunya mei dan kaze terpaksa di seret karena waktu untuk keluar amat sangat sempit.

“Ega... lain kali pehitungkan efek ledakannya...”, ucap reita menahan emosinya.

“Duh... sori... g sengaja jeng...”, ucap ega sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya dengan suara yang di manis-maniskan. Sesaat setelah itu tubuhnya bersinar kembali dan kembali menjadi biasa dengan sebuah mantel abu-abu.

“Ega... caranya berubah gimana?”, tanya leme dengan pandangan bersinar.

“G tahu lem...”, ucap ega langsung tersenyum tanpa beban.

“Kalo g tahu cara lo berubah gimana!?”, leme langsung memukul wajah ega dan membuatnya tersungkur ke tanah.

“Lemper... jangan emosi dulu...”, miss berusaha menenangkan leme.

“Hah...”

“Ega... mati kau...”, gantian alex yang tersulut emosinya. Tongkat kristal yang di pegangnya mulai bersinar dan bersiap menembakkan sebuah sianar merah lainnya.

“Waaa... phi! Jangan tembak!”, ucap ega yang langsung bersembunyi ke belakang reita yang tengah sibuk membetulkan ikatan pedangnya.

“Gaun ku... gaun ku yang indah... jadi rusak gini gara-gara elo! Infra red!”, ucap alex, secercah sinar merah keluar dan langsung mengenai reita tanpa penghalang sedikitpun. Alex tersulut amarahnya begitu menyadari gaun merah yang dikenakannya robek di bagian lengan kanannya gara-gara ledakan yang disebabkan oleh ega tadi.

“Aduh... mati ya? Mati ya?”, tanya miss penasaran.

“Gawat... untuk berikutnya jangan membuat phi marah...”, ucap leme dengan tubuh gemetaran.

Dari kepulan asap yang ditimbulkan oleh tembakan sinar dari tongkat alex terlihat dua sososk bayangan. Sedikit demi sedikit kepulan asap itu hilang dan terlihat kalau reita berhasil menghalau sinar alex dengan sebuah pelindung yang terbuat dari es yang mulai menghilang.

“Eh? Es?”, ucap alex bingung.

“Hehe... perubahanku tuh cool soul... yang bisa berarti keren dan dingin...”, ucap reita dengan senyum lebar.

“Gimana caranya berubah...!?”, tanya leme penasaran.

“Bicaranya nanti saja... ayo bawa mei dan kaze ke kamar mereka”, ucap miss.

Setelah itu mereka membawa kaze dan mei ke kamar masing-masing. Setelah memastikan kalau kondisi kedua gadis itu baik-baik saja mereka berkumpul kembali di ruang dapur karena ruangan kafe sudah porak-poranda.

“Jadi... gimana caranya!?”, tanya leme yang sudah tidak bisa menehan diri.

“Hum... alex gimana? Kalau aku tiba-tiba saja bisa”, ucap ega sambil membuka lemari es. Mencari makanan yang bisa dimakan.

“Jiwa perubahan memangilku...”, ucap reita yang berdiri bersandar ke tembok tanpa melepaskan pedang yang memiliki lambang tengkorak di sarungnya itu.

“Taruhan... aku cuma mastiin ucapan katsu...”, ucap alex yang sudah kembali ke wujud asalnya karena melihat gaun yang dikenakan untuk perubahannya sudah rusak.

“Ucapan katsu?”, leme tidak begitu mengerti karena tidak mendengarkan ucapan katsu dengan jelas. Perhatiannya saat itu tertuju pada shiro yang ternyata merupakan tengkorak.

“Keiginan adalah penggerak kekuatan... fantasy adalah penyelamat...”, ucap miss mengingatkan leme.

“Maksudnya apa miss?”, tanya leme masih tidak mengerti. Semua hanya menggelengkan kepalanya. Tanda mereka juga tidak mengerti dengan arti kalimat itu.

“Katsu itu... kenapa dia g mau jela---“

“UWAAAA!? Kafe gw kenapa ini!?”, belum sempat reita menyelesaikan ucapannya terdengar teriakan dari depan. Reflek semua yang ada di dapur berlari ke arah luar melihat apa yang terjadi.

Di pintu masuk mereka melihat kup yang terduduk dilantai dengan wajah pucat. Dan yang lainnya melihat dengan pandangan tidak percaya, ditambah tiga orang lain yang tidak asing bagi mereka.

“Kup... ini ada penjelasannya...”, ucap leme agak ragu melihat pandangan kup.

“Jeng kyo ku...”, ucap ega tanpa memperdulikan yang lain.

“Jeng ega!”, balas kyo.

“Wah... aku mau tanya... ini kafe atau daerah bekas tsunami?”, tanya killua sambil mengangkat tangannya.

“Dua-duanya... tapi yang barusan bukan tsunami...”, ucap reita sambil menggaruk pipi kanannya, mengingat pembuat kerusakan terparah adalah dirinya sendiri.

“Kaze!? Mana kaze!?”, tanya shiro sambil memandang danbg mencengkeram pundak miss dengan keras (emang bisa?).

“Ada di kamar... dia pingsan sama mei...”, ucap miss. Shiro tidak berkata apapun dan langsung berlari ke arah kamar di lantai 2. berharap kaze baik-baik saja.

“Jadi... sebenernya ada apa!?”, tanya mich mengelihkan perhatian.

“Sebenernya...”

- at the same time... not far from there -

“Way... naik naga itu benar-benar nyaman...”, ucap seorang wanita yang tengah duduk di atas leher seekor naga putih sambil menikmati hembusan angin.

“R... rin... ini g terlalu cepat!?”, tanya seorang pemuda yang mengenakan jaket hitam.

“Ficel... jangan setakut itu kenapa...”, ucap gadis lain yang sedang duduk dengan tenang menikmati pemandangan indah yang terlihat dari atas.

“Pure... bisa-bisanya lo bisa tenang begitu aja...”, ucap ficel sambil berbalik ke arah pure.

“Hehe... habisnya angin sama pemandangannya indah...”, ucap pure sambil tersenyum.

“Udah kenapa nikmati saja... udaranya cerah ini...”, ucap rin yang masih duduk di leher naga putih itu.

“Yup... vamp aja g keberatan...”, ucap pure sambil menunjuk ke arah vamp yang dengan tenangnya berdiri di ekor naga yang ukurannya tidak terlalu luas untuk bediri satu kaki sekalipun.

“Dia mah punya banyak nyawa...”, ucap ficel sambil memandang ke arah vamp.

“Anginnya segar...”, ucap vamp sambil menikmati hembusan angin tanpa memperhatikan pergerakan ekor naga yang ditungganginya itu.

Dan dalam hitungan detik...

“Vamp!?”

Vampire terjatuh saat ekor naga itu bergerak ke samping untuk di kibaskan. Dan tentu saja... vamp terjun bebas tanpa persiapan maupun pengaman...

“Semuanya pegangan... kita bakal menukik...”, ucap rin. Ficel dan pure langsung berpegangan pada sisik naga itu dengan kuat.

- back to kafe -

“Begitu... yah... ambil sisi positifnya sajalah...”, ucap kup memaklumi kejadian itu begitu mendengar cerita yangs sebernarnya.

“Ku---“

“Yang co... nanti bebenah kafe ya... kalo dah makan siang”, ucap kup memotong ucapan alex.

“Ma---“

“Hum? Makan siang nanti apa?”, gantian leme yang memotong ucapan alex.

“Le---“

“Hihi... makan bakso kacang special nak dome...”, ucap kyo memotong ucapan alex lagi.

“Ky---“

“Eh? Maksudnya juki?”, tanya kise dengan pandangan berbinar-binar. Killua hanya menganggukan kepalanya. Bersamaan dengan anggukan kepala killua sebuah tubuh jatuh ke atas tubuh gadis (?) berbalut gaun putih yang belum di ketahui siapa nama sebenarnya itu.

“A... auw...”, ucap gadis (?) itu.

“Ma... maaf...”, ternyata yang jatuh itu adalah vamp yang jatuh menembus atas kafe. Vamp terdiam sesaat sambil melihat siapa yang baru saja dia timpa.

“Ka---“

“Manisnya... aku lagi di surga ya?”, ucap vamp yang langsung meraih ke dua tangan gadis (?) itu dengan wajah merona merah.

“KEKUATAN KEADILAN... TUNJUKKAN KAMI JALAN MENUJU KEDAMAIAN!?”, alex yang sudah kehabisan kesabaran karena ucapannya selalu dipotong memutuskan untuk berubah wujud tanpa memperdulikan gaunnya yang sudah rusak. Namun ternyata gaun yang rusak itu sudah kempali seperti semula dan berubah menjadi lebih indah dari yang sebelumnya.

“EH!? Ap... ap... PHI!?”, vamp langsung tersudut melihat alex yang berubah menjadi malaikat namun tatapannya bagaikan singa kelaparan yang baru saja menemukan mangsanya.

“Dari tadi... kalian selalu memotong ucapan ku... rasakan... in---“

“Vamp!!!”, lagi-lagi suara asing memotong ucapan alex yang belum selesai. Sesaat setelah itu seekor naga yang tadi dinaiki oleh vamp menabrak pitu masuk kafe dan membuatnya hancur menjadi serpihan.

“Ba... ba... Pintunya!?”, kup langsung membatu melihat hancurnya pintu kafe yang melengkapi kerusakan kafe itu.

“Aduh... kudu renovasi nih...”, ucap mich dengan pandangan menerawang.

“Serahkan urusan biaya padaku”, ucap ai sambil mengacungkan tangannya.

“Aha... rin! Kecepetan!”, ucap ficel protes atas pendaratan yang benar-benar sempurna sehingga membuat sebuah kafe hancur.

“...”, alex terdiam mematung tanpa mengucapkan apapun. Gaunnya yang tadinya panjang berubah menjadi sebuah gaun terusan dengan bawahan bagian depannya mencapai setengah pahanya sedangkan bagian belakang panjang hingga lutut. Lengan nya pun hilang, mungkin akibat kerusakan yang disebabkan oleh ega tadi.

“Ah... semuanya!?”, ucap pure begitu menyadari siapa saja yang ada disekitarnya saat itu.

“Pure! Rin! Ficel!”, ucap killua sembari melambaikan tangannya.

“Rin...”, leme langsung memeluk pure.

“Yang di panggil aku kok yang dipeluk pure?”, tanya rin tidak mengerti.

“Mau kupeluk?”, tanya sesorang dari belakang rin. Rin berbalik dan melihat miss berdiri melayang di belakangnya.

“Ficel!!!”, kise yang mengenakan kostum kecoa berlari ke arah ficel.

“Gyaaa... kecoak!”, tanpa pikir panjang rin langsung memukul telak kiseki hingga terpental. Sementara vampa yang baru saja jatuh dari langit masih memandangi gadis (?) yang mengenakan gaun putih itu.

“Em... kamu tidak mau bergabung dengan yang lain...”, ucap gadis (?) itu dengan nada lemah lembut.

“Hah... biarlah... kan langka dapat bicara dengan gadis secantik dirimu...”, ucap vamp sambil mengibaskan rambutnya yang menutupi matanya.

“Uwah... aku jadi tersanjung”, ucap gadis (?) itu dengan tersenyum.

“Siapa namamu?”, tanya vamp.

“Mei...”, ucap gadis (?) itu tanpa pikir panjang. Langsung saja sebuah pisau melayang mengenainya.

“Sori ya... aku... g cocok dengan gaun putih begitu”, ucap mei yang baru saja sadar.

“Sudah g kenapa-napa mei?”, tanya reita agak khawatir dengan wajah mei yang masih agak pucat.

“Iya... aku sadar karena bunyi jatuh yang keras tadi...”, ucap mei sambil tersenyum.

“Kenapa ribut sekali?”, tanya shiro dan kaze bersamaan sambil berjalan bergandengan tangan.

“Kakak...”, pure melambaikan tangan sambil berlari ke arah shiro dan berhenti tepat didepannya.

“Akh... bukan apa-apa... sudah... ngamar aja sana shro...”, ucap kyo usil.

Kaze dan shiro saling pandang untuk beberapa saat.

“G kenapa-napa kaz?”, tanya shiro. Kaze menggelengkan kepalanya. “Ya sudah... ke kamar dulu...”, ucap shiro yang langsung berbalik diikuti oleh kaze.

Langsung saja mich memukul kepala shiro yang membuat wajahnya membentur dinding dengan keras. Shiro berbalik ke arah michi.

“Apaan sih mich!?”, tanya shiro kesal.

“Elo yang apa-apaan! G sehat cewek sama cowok sekamar!”, ucap michi balik membentak.

“Gw cuma mau nganter! Muka si kaze pucat banget tahu!”, ucap shiro balik membentak.

“Eh? Eh?”, kaze merasa kalau posisisnya makin berpindah. Begitu ia sadari ternyata miss menggunakan kekuatannya untuk membuatnya pindah ke kamarnya. Menyadari hal itu kaze tersenyum sambil mengucapkan “Terima kasih”, miss hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“Mei juga... ke kamar saja...”, ucap killua.

“Aku ngak papa... aku kan waitress...”, ucap mei.

“Kafe libur mei... istirahat aja dulu...”, ucap kup sambil memperhatikan kafe yang sudah porak-poranda.

“Ikh... ikh... jangan nyuekin aku!!!”, ucap alex kesal dengan semuanya. Secara tidak sadar ia sudah mengumpulkan sinar merah yang cukup banyak di ujung tonkat kristal miliknya itu.

Sinar merah itu tepat menuju ke arah kise dan ai yang tengah duduk di salah satu meja yang masih benar dan belum rusak.

“Kise!? Ai!?”, semua langsung berteriak menuju kepulan asap itu.

“Phi! Kamu itu kenapa sih!?”, ucap ficel setengah membentak ke arah alex yang menjadi pucat melihat apa yang telah dilakukannya.

Dari kepulan asap yang mulai menghilang itu tidak terlihat satu sosok pun yang terlihat.

“Hi... lang?”, ucap miss sambil membungkam mulutnya sendiri.

“Kise? Ai?”, pure berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sedangkan kyo terjatuh ke lantai melihat hal yang terjadi didepannya.

“Phi... lain kali kendaliin kekuatan lho...”, ucap seseorang. Semua langsung melihat ke arah suara itu yang berasal dari depan cafe.

Ai dan kise terlihat berada di sebuah bola yang melayang di atas seseorang yang tidak asing lagi bagi mereka. Dibelakangnya terlihat sebuah gerobak bertuliskan bakso-kacang.

“Juki!?”

“Hadir...”, ucap juki sambil melambaikan tangannya.

Langsung saja juki melepaskan bola yang berisikan kise dan ai itu.

“Barusan... apa?”, tanya ai dan kise secara bersamaan.

“Bola pelindung?”, tanya rin pada juki. Juki hanya tersenyum penuh arti, namun tidak ada yang mengerti arti dari senyumannya itu.

“Huwah... maaf...”, ucap alex sambil memeluk kise dan ai secara bersamaan. Ai hanya mengelus pelan kepala alex, sedangkan kise tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan hanya diam saja.

“Sepertinya masih butuh latihan lebih banyak lagi...”, ucap juki sambil tersenyum.

Setelah itu juki mempersilahkan mereka duduk (?) dan mulai membuat bakso kacang untuk mereka semua tanpa banyak bicara. Yang lain hanya mengikuti dan diam seribu bahasa.

Beberapa jam setelah itu, kaze dan shiro turun dan bergabung dengan yang lainnya mendiskusikan rencana berikutnya.

“Jadi... kita semua akan berpencar untuk mengumpulkan anggota yang masih terpencar lainnya dan bergabung lagi disini...?”, ucap michi mengulang hasil rapat.

“Tapi... kita kan tidak bisa jalan sendiri-sendiri... gimana kalau ada apa-apa? Lagipula yang bisa bertarung cuma ega, reita, juki sama alex...”, ucap shiro.

“Akh... itu dia!”, ucap ega.

“Kalau gitu rencana ditunda gimana?”, tanya reita sambil melemparkan 3 bola keatas sekaligus.

“Ditunda?”, tanya leme.

“Iya juga... gimana kalau kita jalankan rencana kalau yang lain sudah bisa bertarung?”, ucap miss mengusulkan.

“Caranya?”, tanya kup.

“Cuma ada satu petunjuk...”, ucap mei sambil menggaruk kepalanya.

“Petunjuk?”, tanya ai.

“Iya... kalimat terakhir milik katsu...”, ucap kaze manambahkan.

“Keinginan adalah penggerak kekuatan... fantasy adalah penyelamat...”, ucap alex sambil memalingkan wajahnya.

“Aku g ngerti...”, ucap kise.

“Udahlah... itu nanti saja... siapa namamu...”, ucap vamp mengalihkan perhatian pada gadis (?) bergaun putih yang duduk disebelahnya.

“Maxi...”, ucap gadis (?) yang ternyata cowok itu sambil tersenyum.

“...”, semua langsung terdiam mendengar kalimat itu. Setelah itu rapat selesai tanpa ada hasil akhir. Hanya daftar pekerjaan untuk membetulkan kafe yang rusak parah. Dan dalam waktu satu bulan akhirnya kafe bisa kembali seperti semula, walau ada beberapa perubahan dan kafe menjadi lebih besar dari sebelumnya.

20 september...

“Pada hari minggu kuturut kise ke kota... jalan kaki ampe gempor tetap tidak di gubris...”, leme menyanyi dengan maksud menyindir kise yang seenaknya mengajaknya, max, dan alex menuju toko senjata.

“Lem... jangan ngutak-atik lagu orang gitu... ada pasalnya nya...”, ucap kise agak tersinggung dengan lagu yang leme nyanyikan.

“Nyadar toh...”, ucap leme sambil meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.

“Tega amat... lagian kalo g mau ikut kenapa g bilang?”, tanya kise.

“Habisnya... tau ndiri di kafe cuma ada si kaze sama shiro...”, ucap leme dengan pandangan menerawang.

“Kan ada mei...”, ucap max sambil terus menyedot minuman yang baru saja dibelinya.

“Mei sibuk mondar mandir! Miss menghilang entah kemana...”, ucap leme setengah berteriak.

“Haha...”, max tetawa dengan nada yang dipaksakan.

“Ganti topik... tumben amat pake baju normal max...”, tanya kise yang baru saja menyadari kalau max tidak menggunakan gaun seperti biasanya.

“Kagak ada yang bisa dijadiin objek percobaan...”, jawab max yang langsung berjalan memasuki sebuah toko meninggalkan yanglain sambil melambaikan tangan.

“Heh!? Udah kabur aja tuh anak...”, ucap leme agak kesal.

“Em... lem... kalau gini kesannya kayak double date...”, uca kise sambil menggaruk pipi kanannya sambil memalingkan pandangan matanya ke arah lain.

“Ciattt... double date apaan!?”, ucap leme sambil memukul keras-keras wajah kise.

“Kalau gitu lakuin sesuatu sama yang dibelakang”, ucap kise setengah berteriak sambil menunjuk ke arah dibelakang mereka.

Dibelakang alex tengan bercanda ria dengan seiront yang ditemuainya 20 menit yang lalu.

“Enggak... entar nasib gw bisa kayak elo ma ai dulu...”, ucap leme sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Huh... coba ada temen nge date...”, ucap kise ngelantur.

“Ngelanturna entar aja... ini kita mau kemana?”, tanya leme tidak memperdulikan alex dan seiront di belakang.

“Jah ilah... nggalk berperasaan amat sih lem?”, ucap kise dengan nada agak kesal. Dia mengadahkan kepalanya menatap langit yang kebiruan.

“Em?”, sesuatu turan dengan kecepatan tinggi dari atas langit. Lama-kelamaan benda itu makin dekat ke permukaan tanah. Dan akhirnya...

“Kise!?”, benda itu jatuh ke atas kise. Dari kepulan asap terlihat seorang anak perempuan jatuh terduduk di atas kise.

“Mi... misa!?”, semua terdiam melihat siapa yang baru saja jatuh ke atas tubuh kise.

Novel Rui (Bag. 2)

0 komentar
“Kalo gitu cari yang laen...”, ucap mei sambil terus mengelap gelas terakhir yang harus dikeringkan.

“Hayah... kalo gitu gw juga tau... tapi masalahnya kita g tahu mereka ada di masa kapan dan dimana...”, ucap mich sambil menjalankan pion yang seukuran dengan kepalan tanganya.

“Kalo gitu tanya corard”, miss menambahnkan ucapan mich dengan tersenyum.

“Corard?”, kup mengulang nama yang disebutkan oleh miss dengan wajah bingung.

“Yup-yup... bukannya kamu nemuin dia 3 bulan yang lalu?”, ucap miss agak bingung dengan sikap kup yang tidak begitu mengerti.

“Nu-uh... kita lum ketemu mereka...”, jawab mei.

“Aneh...harusnya kalo ada pendatang kan laporan dulu ke dia...”, ucap miss yang jadi bingung sendiri.

“Aku juga g nemuin corard...”, ucap mich yang mulai menagih uang sewa pada kup.

“Aku juga”, sambung leme.

“Aku cuma ketemu seorang pangeran...”, sambung alex yang mulai terbang ke dalam dunia khayalan.

“Kalau aku... pernah katemu sama shiro... secara kebetulan...”, ucap kaze agak ragu.

“Uwahh... ada yang senasib toh...”, miss langsung terenyum begitu mendengar penuturan dari kaze.

“Kok ragu gitu?”, tanya kup yang menyadari hal itu.

“Habisnya... pemerintahan disini kacau... dan g waras...”, kaze langsung menundukkan kepalanya.

“Hah???”, semua langsung terdiam mendengar ucapan kaze itu.

“I’m back...”, shiro langsung memecah keheningan yang baru saja terjadi 10 detik yang lalu dengan membanting keras-keras pintu masuk.

“Nanti rusak shiro...”, ucap kaze yang langsung mendekati shiro dan mencubit pipi pemuda itu.

“Hehe... habisnya pengen cepet-cepet ketemu kamu...”, shiro dan kaze saling berpandangan untuk beberapa saat dan masuk ke dunia mereka berdua menyusul alex yang pertama kali masuk dunia khayal.

“Eh... mau tanya...”, killua yang datang bersama shiro tidak memperdulikan hal yang terjadi di depannya dan mengacungkan tangannya.

“Nanya apa? Dateng-dateng langsung to the point...”, ucap mich sinis.

“Max itu cewek apa cowok?”, tanya killua dengan wajah innocent. Reflek mich langsung memukul wajah killua dengan cukup keras.

“Pertanyaan lo aneh ah kil...”, ucap leme sambil menggelengkan kepalanya.

“Udah jelas co...”, tambah kup.

“Tapi, tapi, tapi...”, kil mulai gagap berbicara meilhat pandangan aneh yang di tunjukan kepadanya.

“Tapi apa?”, tanya michi sinis.

“Tapi gw dapet brosur ini...”, ucap killua sambil menunjukkan sebuah brosur dimana ada foto seorang wanita yang mengenakan gaun putih dan cukup cantik.

“Uwahhh... manisnya...”, ucap miss leme terpana dengan foto yang ada di brosur itu.

“Trus, apa hubungannya ma pertanyaan lo”, tanya kup yang masih belum mengerti dengan hubungan antara pertanyaan killua dan brosur tersebut.

“Coba liat...”, ucap mei yang mengambil brosur tersebut dari tangan killua. Miss mendekati mei dan melihat brosur tersebut dengan teliti.

“Coba deh, bayangin kalo tu foto yang ada disitu pake baju co dan rambutnya di potong pendek”, ucap killua dengan yakin.

“Uwaaa... mirip max!”, ucap mei tiba-tiba.

“Jah... makin ngaco...”, ucap mich menahan amarah.

“Eh? Iya juga sih... lumayan mirip... dapet darimana ini brosur kil?”, ucap miss membenarkan penuturan mei.

“Ada di jalan...”, ucap killua.

“Daripada asal tebak gimana kalo dipastikan? Ada kemungkinan dia keturunan sih max”, ucap kup. Semua langsung down begitu mendengar ucapan kup, terutama miss. “kok malah down???”, tambah kup begitu melihat suasana yang menjadi suram.

“Kalo ucapan lo bener... kenapa selama 180 tahun ini gw g punya keturunan!?”, tanya miss dengan pandangan tajam penuh amarah.

“Waaa... kagak nyari kali...”, ucap kup ketakutan dengan padangan miss.

Setelah perdebatan dan rapat selama 6 jam lebih keputusan berhasil didapatkan, dengan hasil mereka akan mendatangi alamat yang tertera di brosur itu. Yang akan pergi adalah kyo, killua, michi, shiro dan kup.

“So... ada yang mau jelasin ke gw kagak?”, ucap kyo yang terus mengeluh sejak tadi.

“Penjelasannya nanti aja...”, ucap mich yang malas mendengarkan.

“Kil... yakin nih ga kenapa-napa g jelasin ke kyo?”, tanya shiro dengan sambil berbisik pada killua.

“Jeuh... tau ndiri gimana jadinya kalo si kyo tau alasannya”, ucap killua dengan mata yang disipit-sipitkan.

“Pasti heboh banget deh...”, ucap kup sambil membenarkan sarung tangan di tangan kanannya yang baru saja lepas.

“Haduh... kalo kalian g mau jelasin mendingan aku di kafe bareng cewek-cewek yang lain!”, ucap kyo agak kesal karena karena sejak tadi tidak ada yang mau menjawabnya.

“Kalo gitu bisa-bisa cadangan makanan habis lo makan...”, ucap michi menahan tawa.

“Gw kagak serakus ntu kali...”, ucap kyo dengan nada sebal ke arah michi. Mereka berlima terus membicarakan hal itu selama di jalan. Di tengah jalan tidak ada yang menyadari keberadaan sebuah gerobak yang baru saja mereka lewati. Gerobak yang bertuliskan... –bakso kacang-special from juki-

Sedang kan di kafe...

“Tumben sepi mei...”, tanya alex pada mei yang sedang membereskan meja.

“Yah... gitu deh... ni kafe baru ada pengunjungnya setelah jam makan siang”, ucap mei tesenyum lembut.

“Eh... soal yang kemaren...”, leme memotong pembicaraan.

“Apaan lem?”, tanya kaze sambil menyedot es kopi yang baru saja dibuatnya.

“Kalo yang di ucapin kup bener ntu keturnan max mungkin kagak?”, tanya leme memastikan.

“G mungkin!”, kompak yang lain langsung menjawab.

“Kemungkinan 0%... soalnya... di dunia ini... g ada yang namanya keturunan...”, ucap miss dengan hawa suram yang sejak kemarin menyelimutinya.

“Hah? Maksud lo miss???”, tanya alex dengan pandangan tidak mengerti.

“Di dunia ini g seperti dunia kita... anak-anak ada karena mereka lahir dari tubuh mereka yang sudah mati...”, ucap miss.

“Hah!? Maksudnya?”, tanya keze yang meminta penjelasan lebih rinci.

“Maksudnya begini di dunia ini mereka yang sudah meninggal akan lahir kembali dengan sisa tubuhnya yang masih utuh dalam waktu beberapa tahun”, jawab seseorang yang baru saja memasuki kafe dan langsung memotong penjelasan miss. Alex melihat ke arah pemilik suara itu, dan dalam hitungan detik matanya langsung berbinar-binar melihat pemilik suara itu.

“Ah... seir...”, ucap alex sambil mengepa kedua tangannya dengan wajah merona merah.

“Ah... kamu gadis yang beberapa hari kutemui di pinggir hutan kan”, ucap seiront sambil tersenyum lembut memandang ke arah alex.

“Prasaan gw aja ato emang ada yang lagi kasmaran?”, tanya miss pada leme.

“Kenyataan gitu miss”, ucap leme lemas.

“Um... dia kan yang suka datang pas lagi sepi... tapi dah seminggu g keliatan”, ucap kaze.

“Huh... dia lagi...”, ucap mei yang langsung melepaskan celemeknya dan mesuk ke dalam menuju kamarnya.

“Si mei kenapa?”, tanya leme. Sementara alex dan seiront masih berbincang- bincang di meja yang sebelumnya di sedang di bersihkan oleh mei.

“Enggak tahu... dari awal ketemu dia emang gitu...”, ucap kaze dan miss bersamaan.

“Jah...”

“Ah... oh iya... kau pesan apa? Biar kubuatkan...”, ucap alex yang baru sadar. Yang lain memperhatikan alex dengan pandangtan seolah mereka sedang memperhatikan dua orang pasangan.

“Tidak usah repot-repot... aku tidak lama kok...”, jawab seiront sambil tersenyum.

“Lho? Lalu datang kesini untuk apa?”, tanya alex.

“Tentu saja untuk melihat wajahmu yang manis...”, ucap seiront yang menggenggam sebagian rambut alex yang panjang. Pandangan matanya lurus menatap alex dengan lembut.

“Ah... um...”, alex tidak dapat bicara apapun selain membalas tatapan seiront dengan wajah merona merah dan pandangan mata sayu.

“Kita lagi ngeliatin drama ya?”, tanya miss pada leme dan kaze yang memetung melihat adegan di depannya.

“Jauh lebih parah dari gw ma shiro...”, kaze mulai nelantur karena merasa tersaingi dalam hal mesra-mesraan.

“Kalo tahu parah kenapa masih dilanjutin?”, ucap miss dan leme bersamaan dengan pandangan menerawang jauh ke arah kaze.

“Play time over!”, ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul di sambing seiront dan alex yang tengah saling berpandangan.

“Hwaa...”, reflek keduanya mundur kebelakang beberapa langkah.

“Cih... jadi gini toh wujud aslinya nak nimbuzz...”, ucap gadis yang baru datang itu. Dengan pandangan sinis dia melihat ke arah alex dan seiront bergantian.

“Um... katsu kan?”, tanya leme agak ragu sambil menunjuk ke arah gadis itu.

Katsu berbalik ke arah leme, untuk beberapa saat dia terdiam dan langsung duduk di atas meja dengan santai tanpa menjawab pertanyaan leme dan tersenyum lembut dengan manis dan elegant (?).

“Jawab pertanyaan gw napa...”, ucap leme agak kesal dengan tingkah gadis yang mengenakan gaun terusan dengan paduan warna hitam dan putih.

“Hihi... padahal ku kira g ada anak nimbuzz yang kenal ma aku selain atol...”, jawab gadis itu sambil tertawa kecil.

“Katsu?”, tanya alex dengan wajah bingung.

“Ah... istirahat sudah selasai... aku harus kembali bertugas...”, ucap seiront sambil memperhatikan arloji yang dikenakannya.

“Eh? Sudah mau pergi?”, tanya alex. Seiront melihat ke arah alex sesaat dan mengelus lembut kepala gadis itu sambil tersenyum.

“Kita akan bertemu lagi...”, ucap seiront seraya melangkah meninggalkan alex yang wajahnya masih merona merah.

Semua melihat pemandangan itu sambil terpaku membisu tidak tahu harus bicara apa. Katsu melihat yang lainnya dengan pandangan agak cuek sambil menunggu apa yang akan mereka katakan berikutnya tanpa ada niat untuk memecah keheningan itu.

“Beneran deh... jadi ga aneh kalo liat atol yang sekarang...”, ucap katsu sambil menghela nafas panjang-panjang.

-kembali pada yang sadang mencari orang hilang-

“Uwaah... megahnya...”, ucap kyo terpana melihat bangunan megah yang berdiri di depannya.

“Bener ini tempanya kup?”, tanya shiro memastikan takut mereka salah tempat.

“Yup... menurut tulisan di nih brosur cewek ini untuk beberapa saat akan tinggal disini...”, ucap kup sambil membaca brosur yang ad ditangannya.

“Hum... gw jadi ragu nih...”, mich menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ah... maaf paman... apa benar gadis ini ada di dalam?”, killua bertanya pada seorang penjaga gerbang yang tengah berdiri didekatnya. Penjaga berambut hijau itu melihat ke arah mereka berdua untuk beberapa saat.

“Iya... kalian siapa?”, tanya penjaga itu.

“Ah... kami hanya ingin menanyakan beberapa hal p-ada dia...”, ucap mich santai.

“DIA!?”, penjaga itu terkejut mendengar ucapan mich. “Beraninya kalian tuan putri dengan panggilan dia..”, ucap penjaga itu penuh emosi.

“Pu... putri!?”, killua dan kup mengucapkan hal itu secara bersamaan.

“Pantesan aja... ni tempat kan tempat corard yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi”, ucap shiro.

“Uwa... tapi kok agak mirip sama mex?”, kyo baru menyadari gadis di brosur itu mirip dengan max.

“Beraninya kau...”, penjaga itu emosi dan mengacungkan tombaknya pada kyo tepat di depan wajahnya.

“Ei... da apa ribut-ribut?”, seseorang berjalan keluar dari dalam gedung itu.

Seorang wanita yang mengenakan gaun berwarna merah dengan rambut yang disusun agar terlihat mengembang. Berjalan di atas sebuah karpet merah yang memang di pasang untuk menghubungkan pintu masuk dengan gerbang.

“Heh... ai?”, mich melihat ke arah gadis yang baru saja keluar itu dengan pandangan tidak percaya. Wanita itu memang memilki kemiripan dengan ai yang di kenalnya, hanya saja ai yang di kenalnya masih berusia belasan dan wanita itu sudah sekitar 20-an.

“Uwah... mich-mich”, jawab wanita itu sambil tersenyum.

“No... nona...? anda mengenal orang-orang ini?”, tanya penjaga itu bingung dan menurunkan tombaknya agar memudahkannya untuk membungkuk.

“Hhe... iya... ayo masuk.... kalian g berubah dari 7 tahun yang lalu ya...”, ucap ai yang terlihat agak iri melihat kawa-kawannya masih terlihat seperti terakhir kali dia lihat... bagi ai itu 7 tahun yang lalu... bagi shiro dan kup itu 3 bulan yang lalu... dan bagi killua, mich dan kyo itu baru beberapa hari yang lalu...

“Uwaah... ai hebat banget... bisa jadi nyonya besar...”, ucap kyo sambil mengikuti ai dari belakang.

“Ku gantung kau jeng... hebat apanya? Tekanan batin adanya...”, ucap ai sambil tersenyum dan menutupi sebagian wajahnya dengan kipas merah yang di bawanya.

“Tekanan batin?”, mich mengulangi ucapan ai dengan nada tidak mengerti.

“Iya... gimana jelasinnya ya... kudu inilah... kudu itulah... g boleh ini, g boleh itu... tapi yang penting ada hiburan”, ucap ai sambil tertawa kecil. Yang lain langsung terdiam tidak mengerti dengan ucapan ai yang sulit dicerna.

“Ai... lebih jelas kenapa?”, ucap kup yang tidak mengerti dengan ucapan ai.

“Hhe... liat aja... ada pertunjukkan bagus buat kali...”, beluam sempat menyelesaikan ucapannya seseorang langsung berlari ke arah killua dan menabraknya hingga jatuh ke lantai.

“Aduh...”

“Kil? Lo baik-baik aja?”, tanya ai agak cemas.

“Huwaaah... kil!? Umpetin gw!”, ucap pria yang mengenakan kostum mirip kecoak yang beberapa saat yang lalu baru saja menabraknya.

“Heh... ki... ki... KISELEK!?”, ucap kil agak terkejut begitu melihat siapa orang yang mengenakan kostum kecoak itu.

“Wew... untung aja yang cewek cuma ai sama kyo...”. ucap kup agak lega, entah karena apa.

“Eykeu okama kup...”, ucap kyo buru-buru membenarkan ucapan kup.

“Trus apa bedanya?”, tanya kup yang kelihatannya ingin memulai sebuah adu mulut dengan kyo.

“Ngajak ribut ya kup!?”, tanya kyo yang mulai terpancing emosinya.

“Ribut pas lagi di nimbuzz sih g masalah... tapi kalau di dunia nyata...”, shiro menggumam sambil memalingkan wajahnya, pura-pura tidak melihat kejadian yang terjadi didepannya.

“Woi! Umpetin gw dolo!?”, ucap kiseki mengalihkan pembicaraan yang terjadi...

“Hyaha... mau jadi waitress lagi ya kis?”, tanya ai dengan wajah berseri-seri.

“Jangan ketawa di atas penderitaan orang!”, ucap kiseki sebal dengan ucapan ai.

“Waitress? Kise jadi waitress?”, ucal kyo dan kup secara bersamaan.

“Kecoa ku ga boleh jadi waitress...”, ucap killua sembari memeluk kiseki bagaikan seorang anak kecil yang mempertahankan mainannya.

“Siapa kecoak lo!?”, ucap killua sambil melepas pelukan dari killua.

“Tujuan kita kesini apa sih!?”, tanya mich agak kesal dengan kekacauan yang terjadi di depannya.

“Ah... kalian...”, seluruh pandangan kontak melihat ke arah pemilik suara itu.

Dari lantai dua terlihat seorang gadis (?) berdiri sambil memegang pinggiran tangga. Gadis (?) yang fotonya ada di brosur itu kini berdiri di depan mereka. Ia mengenakan sebuah gaun putih bersih.

Gadis (?) itu langsung berlari menuruni tangga dan berdiri di depan mich dengan pandangan mata berbinar-binar. Mich yang berdiri di depannya merasa tidak asing dengan dengan gadis yang ada didepannya, suaranya pun tidak asing.

“Waa... max! Gw ga mau pake baju waitress!”, ucap kise yang langsung berdiri di belakang killua.

“Hehehehe... hiburan yang ku maksud tadi ya ini...”, ucap ai sambil tersenyum lebar.

“Haah!?”

-Back to DC-

“Lo tahu dimana atol?”, tanya mei pada katsu yang masih duduk di atas meja dengan pandangan sinis ke penjuru ruangan.

“Di bilang tahu enggak... dibilang enggak juga tahu...”, ucap katsu tersenyum.

“Maksudnya?”, tanya leme meminta penjelasan dari katsu.

“Kalaupun tahu aku g akan bilang pada kalian... I know everything but nothing...”. ucap katsu.

“jangan berbelit kenapa kat?”, ucap miss agak kesal.

“Dan jangan cuekin kita...”, leme sudah kesal sejak katsu tidak mau menjawab pertanyaanya tadi.

“Hm... look like you all have a quest...”, ucap katsu mengalihkan pembicaraan.

“Maksudnya apa!? Jangan berbelit-belit “, ucap kaze yang makin pusing dengan ucapan katsu.

“Kalau mau bilang ya bilang! Kalo g mau bilang ya jangan bilang!”, ucap alex yang baru saja kembali dari petualangannya ke langit.

“Ah... dah nyadar lex”, ucap miss memberi ucapan selamat datang pada alex yang jiwanya baru saja kembali dari langit ke tujuh.

“Hah... rasanya tadi aku habis mimpi indah... seiront...”, alex kembali terbang ke langit ke delapan (emang ada?).

“Dia pergi lagi...”, ucap katsu menahan tawa.

“Sadarkanlah alex please...”, ucap mei sambil menggeleng-gelengken kepalanya.

“Itu sama aja nganter nyawa!”, kaze mengangkat tangannya tidak mau ikut-ikuttan dengan kekacauan yang sedang terjadi.

“Hei... kembali ke topik...”, ucap katsu mengembalikan pembicaraan.

“Topik yang mana? Kagak ngarti!”, ucap mei.

“Tujuanku ke sini... aku cuma mau kasih peringatan”, ucap katsu.

“Peringatan!?”, leme mengulang ucapan katsu.

“Kamu g mau bergabung?”, tanya miss dengan pandangan bingung.

“Nop, untuk saat ini aku netral...”, ucap katsu sambil tersenyum.

“Netral?”, semua mengucapkannya bersamaan.

“Beberapa dari orang yang kalian kenal adalah musuh... mereka ingin agar kalian tetap ada di dunia ini... mereka tidak ingin kembali...”, ucap katsu dengan nada datar.

“Heh!? Mak----“, belum sempat miss bicara seseorang memasuki ruangan.

“Hei...”, seseorang memasuki ruangan dengan senyum licik terlukis di wajahnya.

“Ah... shiro...”, ucap kaze yang langsung memeluk shiro. Namun langsung dia lepaskan.

“Kaze? Kenapa?”, ucap shiro yang masih tersenyum.

“Bukan... bukan shiro!”, ucap kaze dengan wajah pucat.

“See... I tell you...”, ucap katsu sambil menutup kedua belah matanya.

“Maksudmu apaan kat!?”, tanya leme agak membentak.

“Selama perjalanan kalian akan ada seseorang yang mengatur kendali dunia ini... dia akan menghalangi kalian... keinginan adalah penggerak kekuatan... fantasy adalah penyelamat...”, ucap katsu. Sesaat sesudah itu tubuhnya berubah menjadi debu.

“Eh!?”, miss langsung pucat melihat hal itu. Tanpa sadar dia menarik rambut alex dan membuatnya sadar.

“Adaw!”, alex berteriak keras.

“Lepasin!”, disambut teriakan dari kaze yang kedua tangannya digenggam dengan keras oleh shiro.

“Shi--- shiro!?”, leme memanggil namanya namun tidak ada respon.

“Dia bukan shiro!? Bukan!?”, ucap kaze dengan wajah menahan rasa sakit.

“Eh!?”

“Wah... jahatnya... mengatakan hal seperti itu pada kekasihmu sendiri...”, ucap shiro... atau dengan kata lain... tengkorak yang sudah kehilangan kulitnya.

“Ap!?”, mei tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena terlalu cepat jatuh pingsan. Sedangkan kaze langsung mematung melihat hal itu karena merasa sudah lemas.

“Shiro... jadi tengkorak?”, tanya miss dengan pandangan agak bingung.

“Woi! Si mei pingsan nih...”, ucap leme mengalihkan perhatian miss.

“Tadi katsu... sekarang shiro... ada apa dengan dunia ini sebenarnya!?”, tanya miss yang mulai pusing melihat hal yang ada disekitarnya.

Alex hanya terdiam, seolah tidak memperdulikan sekitarnya. Padahal dia sudah kembali dari taman khayalannya.

“Lem... tadi katsu bilang apa?”, tanya alex tiba-tiba.

“Hah!? Jangan ngemengin ntu dulu! Ayo lari...”, jawab miss cemas.

“Keinginan adalah penggerak kekuatan... fantasy adalah penyelamat...”, gumam alex dengan pelan. Leme dan miss saling berpandangan ketika melihat pandangan alex penuh dengan kepercayaan diri yang begitu besar.

“Phi?”, miss mendekati alex. Namun belum sempat dia menepuk pundak temannya itu...

“Ini taruhan ku... kekuatan keadilan tunjukkan kami jalan menuju kedamaian!”, ucap alex deengan suara lantang yang tidak jelas apa artinya.

“Hah? Phi g waras!”, ucap leme dengan pandangan menerawang. Namun, tidak berselang lama setelah itu matanya langsung terbelalak melihat yang ada di hadapannya.

Tubuh alex mulai bersinar, sinar yang bagaikan pelangi menerangi ruangan itu. Membuat yang ada di sana silau karena cahayanya yang begitu terang.

“Malaikat penyelamat telah hadir untuk menolong!?”, ucap alex sesaat setelah cahaya dari tubuhnya menghilang.

“Alex... jadi malaikat!?”, ucap leme dan miss secara bersamaan.

“Ba... bagaimana mungkin!? Apa mungkin mere...”, belum sempat tengkorak itu bicara alex sudah menyerang menggunakan sebuah tongkat yang diujungnya terdapat sebuah kristal berwarna merah tepat mengenai kepalanya dan membuat hancur lebur menjadi serpihan.

“Keadilan selalu menang!”, ucap alex dengan tawa aneh dan kedua jari tangan kanannya membentuk huruf ‘V’. Leme dan miss hanya melihat tanpa mengucapkan apapun. “Uwaa... manisnya... kostumnya manis!”, ucap alex memperhatikan penampilannya.

Pakaian alex berubah menjadi gaun berwarna merah yang terdapat beberapa renda berwarna ungu. Sepasang sayap putih tumbuh di punggungnya dan penutup kepala dengan warna bening menghiasi rambutnya.

“Alex... gaunnya cantik banget! Leme mau! Mau!”, ucap leme setengah merengek.

“Enak aja! Leme berubah aja!”, ucap alex sambil berputar-putar sambil mengepak-ngepakan sayapnya.

“Caranya berubah?”, tanya leme. Alex berhenti berputar dan hanya menggelng-gelengkan kepalanya tanda tidak tahu caranya.

“Lex... ngomongnya nanti aja... itu...”, miss menghentikan pembicaraan leme dan alex sambil menunjuk ke arah serpihan-serpihan tulang belulang yang berserakan di lantai.

Serpihan-serpihat itu terbungkus kabut hitam dan mulai membesar sedikit-demi sedikit. Sampai akhirnya kabut hitam itu lenyap dan muncullah ratusan tengkorak hidup yang jumlahnya menyamai serpihan yang berserakan.

“Malaikat alex... tolong urus ya...”, ucap miss mempersilahkan alex yang hampir tidak bisa bicara apapun melihat tengkorak-tengkorak hidup yang memenuhi ruangan kafe itu.

“Mana mungkin bisa...”, ucap alex setengah berteriak. Namun tidak ada seorang pun yang datang untuk menolong. Jelas saja saat itu semua penduduk sedang tidak ada di kota.

“Wah... kayaknya lagi ada pesta di dalam...”, ucap seorang wanita yang mengenakan mantel yang compang-camping dan sebuah topi koboi.

“Hm... dome cafe memang selalu berpesta... di dunia nyata pun masih berpesta...”, ucap pemuda yang bersamannya.

Mereka berdiri di depan kafe sambil memperhatikan kumpulan tengorak yang sampai keluar kafe karena sudah tidak muat lagi didalam.

“Kau mau turun tangan sekarang?”, tanya wanita itu sambil mengangkat pedang miliknya yang terdapat ukiran berbentuk tengkorak di sarungnya.

“Hm... boleh juga... waktunya untuk naughty okama beraksi...”, ucap pemuda itu yang langsung berlari ke dalam kafe.

“Aku bukan anggota okama!”, ucap wanita itu sambil berlari mengikutinya.

Followers

 

Misa Allen Blog Copyright 2008 Fashionholic Designed by Ipiet Templates Supported by Tadpole's Notez